Muaro Sijunjung– Civitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Yaqin Muaro Sijunjung menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. di pelataran Geopark Ranah Minang Silokek Sijunjung, Minggu (14/09/2025). Hadir pada kegiatan penuh hikmah ini Ketua STIT Sijunjung, Wakil Ketua STIT Sijunjung, Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (UP2M), Kepala Unit Laboratorium, Kasubbag Administrasi Umum, Kasubbag Kemahasiswaan dan Kerjasama, Kasubbag Keuangan, dan para mahasiswa. Selain itu, dari tuan rumah hadir Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Silokek Kecamatan Sijunjung.

Mayarman Datuak Kali Bandaro, mewakili tokoh dan masyarakat Nagari Silokek, dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan Maulid Nabi digelar di Geopark Ranah Minang Silokek. “Mewakili masyarakat nagari, kami mengucapkan selamat datang kepada keluarga besar STIT Muaro Sijunjung di Nagari Silokek. Terima kasih sudah memilih pelataran Geopark Ranah Minang Silokek sebagai tempat peringatan Maulid Nabi tahun ini. Semoga pada masa depan, banyak lagi kegiatan dan acara keagamaan yang bisa kita laksanakan bersama di Nagari Silokek” harap Ketua KAN Nagari Silokek tersebut.

Sementara itu, Ketua STIT Sijunjung, Awang Ringgit, M.Sy., dalam hantaran katanya menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia pelaksana serta pemangku adat dan tokoh masyarakat Nagari Silokek. “Kita bersyukur dapat berkumpul di pelataran Geopark Ranah Minang Silokek yang menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Sijunjung dan sudah bertaraf internasional”.
“Tujuan kita berkumpul di tempat yang indah ini sangatlah mulia, yakni memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. 1447 H. Terima kasih kita ucapkan kepada segenap panitia. Juga ucapan terima kasih tak terhingga kita sampaikan juga kepada tokoh dan masyarakat Nagari Silokek yang mendukung dan memfasilitasi kegiatan yang insya Allah penuh limpahan berkah ini. Kepada penceramah kita, yakni Buya Herdianto Ridwan Al-Gontori, M.Pd.I., kita persilahkan menyampaikan tausiah seluas-luasnya” terangnya.

Lebih jauh, pengampu mata kuliah Hukum Islam ini menyatakan bahwa tahun kegiatan Maulid Nabi di alam terbuka. “Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) kita laksanakan di kampus. Istilah kerennya disebut indoor. Pada tahun ini kita menggelarnya dengan nuansa yang berbeda. Kita bersepakat menggelarnya di alam terbuka atau outdoor. Kita memilih melaksanakan kegiatan ini di pelataran Geopark Ranah Minang Silokek Sijunjung. Kenapa? Kita ingin mengenalkan tempat wisata alam ini kepada mahasiswa STIT Sijunjung dan sekaligus ingin berpartisipasi mempromosikan Geopark Ranah Minang Silokek kepada masyarakat yang lebih luas. Selain itu, kita juga ingin bersilaturahmi dengan tokoh dan masyarakat Nagari Silokek. Hemat kami, ini salah satu dari implementasi kampus berdampak yang sudah kita diskusikan bersama ahlinya pada kuliah umum tempo hari” ungkapnya.
Buya Herdianto Ridwan Al-Gontori, M.Pd.I. menyampaikan tausiah Maulid Nabi secara atraktif, penuh humor, dan menggunakan tiga bahasa sehingga mampu memikat audiens. “Mengapa kita perlu memperingati Maulid Nabi? Maulid Nabi berarti kelahiran Nabi Muhammad Saw. Kelahiran Rasulullah adalah momentum bagi kita untuk kembali meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad. Sifat Nabi seperti shiddiq, amanah, fathanah, dan tablig bukan hanya sebatas pengetahuan. Di atas itu semua, kita harus mengimplementasikan sifat-sifat Rasulullah secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Seperti ulang tahun siapa dan milad organisasi mana saja, peringatan hari kelahiran adalah kembali mengenang masa-masa indah serta momen-momen terbaik. Kelahiran adalah harapan. Milad merupakan kebahagian. Maulid ialah penyemangat untuk lebih baik lagi pada masa depan” tegas Kepala Unit Laboratorium STIT Sijunjung ini.

Lebih jauh, pengampu mata kuliah Sejarah Peradaban Islam itu, menjelaskan bahwa yang perlu diingat dan digarisbawahi dengan memperingati Maulid Nabi adalah metode Rasulullah dalam menyebarluaskan agama Islam. “Nabi Muhammad Saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Bukan hanya untuk manusia, melainkan juga untuk makhluk Allah ‘azza wa jalla lainnya, semisal hewan dan tumbuh-tumbuhan. Islam sebagai rahmat bukan juga priveles umat Islam saja, tetapi juga untuk pemeluk agama lainnya. Mengutip Gus Dur, mencintai Allah dan cintai juga makhluknya karena Allah menyayangi semua makhluknya. Oleh sebab itu, mari kita berdakwah dengan penuh hikmah dan bijaksana, menggunakan bahasa yang baik, dan perdebatan yang produktif” jelas tamatan pondok pesantren yang terdapat di Ponorogo Jawa Timur itu. (Yap)
